Travelling Anti Tersesat dengan Geospasial

Pergi ke tempat-tempat baru selalu memberikan kesan dan pengalaman yang lebih dari yang lain. Inilah yang menjadi penyebab travelling, backpacking, maupun tracking menjadi hobi yang akhir-akhir ini cukup banyak digemari. Selain persiapan fisik dan mungkin juga budget, aspek lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam hobi ini supaya semua kegiatannya berjalan dengan lancar adalah pemahaman terkait geospasial lokasi yang akan dituju. Aspek ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri mengingat lokasi tujuan belum pernah dikunjungi sebelumnya.

Akibat yang paling sering dijumpai karena kekurangpahaman terkait lokasi tujuan adalah bingung dan tersesat. Di Indonesia, sudah banyak kasus pendaki yang tersesat di gunung atau backpacker yang bingung arah. Berikut adalah beberapa data berita berkaitan dengan kasus pendaki gunung yang tersesat di tahun 2017:

Klik untuk melihat data berita kasus pendaki tersesat tahun 2017

Memahami geospasial lokasi tujuan travelling, backpacking atau tracking, baik itu di daerah pelosok maupun gunung pada dasarnya tidak begitu sulit, cukup mempersiapkan peta (informasi geospasial) serta mempelajari cara penggunaan dan pembacaannya. Di era yang hampir semuanya sudah tersentuh teknologi ini, peta juga bisa diakses melalui smartphone. Penggunaan peta melalui smartphone menjadi semakin efektif mengingat adanya fitur location yang akan memberitahu informasi posisi kita serta kemampuannya untuk ditambahkan aplikasi kompas sebagai petunjuk arah.

Selama ini, mungkin kita telah mengenal yang namanya Google Maps dan Google Earth sebagai alat bantu memahami lokasi tujuan sekaligus aplikasi navigasi perjalanan kita selama travelling, backpacking, maupun tracking. Bagi yang khawatir lokasi tujuan memiliki jaringan internet yang buruk, misalnya di gunung ataupun tempat-tempat wisata tersembunyi bahkan kini bisa bernafas lega lantaran sejak November 2015 lalu Google Maps bisa digunakan dalam mode offline di Indonesia (sumber). Pengguna cukup mengunduh peta pada area yang dibutuhkan sebelum memulai travelling, backpacking, maupun tracking. Detail terkait cara penggunaan Google Maps offline ini bisa disimak di laman resmi Google Maps Support.

google Maps Offline Mode

Salah satu kelemahan Google Maps (baik offline maupun online) adalah peta yang bisa digunakan terbatas produk Google saja. Padahal boleh jadi untuk beberapa lokasi di Indonesia, informasi di peta Google kurang lengkap. Namun demikian, lagi-lagi kita tidak perlu risau lalu membatalkan rencana backpacking dan tracking. Ada banyak aplikasi geospasial yang bisa kita gunakan untuk memahami suatu lokasi dan alat bantu navigasi dengan data peta selain dari Google, diantaranya adalah Navitel, Sygic, OruxMaps, PapaGo!, TomTom, Maverick, HERE WeGo, MapFactor, Maps.Me, dan OsmAnd+. Seperti halnya Google Maps, semua aplikasi tersebut dapat bekerja dengan baik pada mode offline (meskipun beberapa berbayar) dengan terlebih dahulu mengunduh dan menyimpan petanya dalam memory smartphone. Selain menggunakan peta yang telah disediakan oleh Aplikasi Geospasial tersebut, kita juga bisa menggunakan peta dari navigasi.net (yang menyediakan data geospasial digital Indonesia gratis untuk aplikasi smartphone). Dengan demikian, mau digunakan di lokasi yang tidak terjangkau jaringan internet sekalipun aplikasi geospasial tersebut tetap bisa membantu kegiatan backpacking maupun tracking Anda menjelajahi nusantara.

Navitel
Sygic
MapFactor
OsmAnd+
Maverick

Terlepas dari hal di atas, menonaktifkan jaringan internet smartphone pada dasarnya juga menjadikan smartphone lebih hemat daya battery. Walaupun ketika jaringan internet memungkinkan ada baiknya diaktifkan terlebih dahulu sekedar untuk mempercepat smartphone melakukan lock position (posisi smartphone terdeteksi). Adapun setelah itu, dapat dinonaktifkan kembali bahkan diatur menjadi mode pesawatpun tidak masalah. Permasalahan muncul ketika jaringan internet tidak ada sama sekali, sehingga proses lock position cenderung menjadi lebih lama karena hanya mengandalkan fitur location. Meskipun hal ini sebenarnya juga tidak bisa dipastikan mengingat masih tergantung dengan smartphone yang digunakan.

Smartphone model lama umumnya hanya mampu menangkap sinyal Global Navigation Satellite Systems (GNSSs) GPS, berbeda dengan smartphone terbaru yang rata-rata sudah mampu menangkap sinyal GNSS lain seperti Glonass, Beidou, QZSS, ataupun Galileo. Lalu mana yang lebih baik? Sudah barang tentu semakin banyak sinyal satelit navigasi yang bisa ditangkap akan semakin cepat proses lock positionnya. Lebih lanjut, menurut berita yang beredar baru-baru ini, dengan perkembangan teknologi, di tahun 2018 yang akan datang fitur location pada smartphone akan mampu memberikan tingkat akurasi hingga 30 cm. Tingkat akurasi ini lebih dari cukup untuk membantu travelling dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan akurasi fitur location saat ini yang rata-rata masih 5 meter (sumber).

Smartphone saya hanya bisa menangkap sinyal GPS nih, apa harus beli smartphone baru ya? Atau nggak jadi backpacking/tracking saja ya (daripada nyasar)?” Kalau kemudian ada yang bertanya demikian, jawabannya adalah: Tidak perlu ganti smartphone. Mengapa demikian? Karena proses lock position masih bisa dipercepat dengan sedikit mengoprek smartphone dan menginstall aplikasi tambahan. Anda bisa mencari tutorialnya melalui search engine atau langsung saja kunjungi situs ini

Khusus bagi yang akan tracking atau mendaki gunung kita juga dapat mengunduh dan memanfaatkan beberapa data track pendakian yang sudah ada supaya tidak tersesat. Penggunaannya cukup mudah, tinggal klik file .kml atau .gpx tracknya kemudian buka dengan aplikasi geospasial Anda. Berikut adalah beberapa data track jalur pendakian gunung di Indonesia (sumber):

Klik untuk melihat data track pendakian gunung di Indonesia

Track Jalur Penakian Anti Tersesat

Tidak tersesat dengan geospasial!

Sumber video Navitel Sygic MapFactor OsmAnd+ Maverick

Travelling Anti Tersesat dengan Geospasial
5 (100%) 10 votes

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *