Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumberdaya alam di lain sisi menyimpan ancaman bencana yang cukup beragam dan serius. Entah itu bencana yang murni karena faktor alam maupun yang melibatkan faktor manusia, mulai dari kekeringan, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga tsunami. Diantara berbagai bencana tersebut, gempa bumi (dan kemungkinan tsunami) agaknya merupakan bencana alam yang paling sulit diprediksi waktu dan lokasi terjadinya.
Kenali Bahaya/Ancaman Gempa Bumi
Bencana gempa bumi selain bisa diakibatkan oleh aktivitas vulkanik (gunung berapi), juga bisa dikarenakan oleh adanya aktivitas lempeng tektonik. Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan ‘Ring of Fire’ (pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik 1) serta memiliki sedikitnya 143 gunung api 2)) tentu harus terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaannya.
Berikut adalah data spasial dari lempeng tektonik dan sebaran gunung berapi di Indonesia:

Tercatat sedikitnya 1269 kali terjadi gempa bumi pada tahun 2018 ini (hingga 7 September) di berbagai wilayah Indonesia. Adapun salah satu gempa bumi yang menimbulkan banyak korban serta kerugian dan kerusakan yang besar adalah yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat beberapa hari yang lalu.
Berikut adalah detail sebaran titik gempa bumi di berbagai wilayah Indonesia yang terjadi dari tahun 2015 hingga 2018 (7 September 2018). Sumber data https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/search. Berdasarkan data ini, satu-satunya pulau yang tergolong aman dari gempa bumi hanya Kalimantan.

Lalu apa yang wajib dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat terhadap besarnya ancaman bencana gempa bumi di Indonesia? Cara menyikapi bencana secara umum pada dasarnya telah dijabarkan detail di dalam UU RI No. 24 Tahun 2007, yang mengelompokkan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi tiga tahapan inti, yakni prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana.
Berikut adalah detail penyelenggaraan penanggulangan bencana menurut UU RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana 3):
2. dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana
Saat tanggap darurat
Pascabencana
Risiko dari bencana gempa bumi dapat dikurangi dengan mempertimbangkan beberapa aspek yang mempengaruhinya, yakni bahaya/ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas atau ketahanan (capacity) 4). Dalam konteks gempa bumi, bahaya/ancaman adalah aspek yang sangat sulit untuk diatur, mengingat sangat tergantung pada aktivitas lempeng tektonik dan gunung api.
Melihat posisi Indonesia yang berada dalam kawasan Ring of Fire maka nilai dari bahaya/ancaman gempa bumi tentu akan sangat tinggi. Mengacu dari data gempa bumi yang sudah di jelaskan pada awal tulisan ini (klik untuk melihat kembali webgis sebaran titik gempa bumi), dari 1 Januari hingga 7 September lalu saja sudah tercatat lebih dari 1000 gempa bumi terjadi, meskipun sebagian besar tidak menimbulkan kerugian dan korban dalam jumlah banyak.
Kerentanan dan ketahanan adalah aspek yang paling memungkinkan untuk bisa diatur dalam upaya mengurangi risiko gempa bumi. Aspek kerentanan harus ditekan hingga titik terendah, sebaliknya aspek ketahanan harus terus ditingkatkan. Kedua hal ini pada dasarnya berkaitan erat dengan poin-poin penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap sebelum terjadi atau prabencana.
Kerentanan terhadap gempa bumi setidaknya berkaitan dengan dua persoalan, yaitu sosial dan fisik. Persoalan sosial paling mudah untuk diamati adalah tingkat kepadatan penduduk. Daerah-daerah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sumatera yang berdasarkan data dari BPS memiliki kepadatan penduduk tinggi dibandingkan pulau lainnya menunjukkan bahwa kerentanan sosialnya tinggi. Oleh karena itulah untuk mengurangi kerugian dan korban yang diakibatkan jika terjadi gempa bumi, maka perlu diotimalkan pada persoalan fisik. Contohnya adalah dengan membuat bangunan atau rumah yang tahan gempa.
Seperti apa model konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa bumi? Berikut ini adalah beberapa contoh dan penjelasannya:
Peningkatan aspek ketahanan beberapa diantaranya dapat dilakukan dengan pendidikan/sosialisasi dan pelatihan. Pendidikan/sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui sekolah dan universitas, melainkan juga media massa dan berbagai media lain, yang tujuan utamanya adalah mengenalkan bahaya gempa bumi dan meningkatkan budaya sadar bencana. Adapun kegiatan pelatihan difokuskan pada simulasi jika terjadi gempa bumi, baik ketika berada di luar ruangan, di dalam rumah, maupun di dalam gedung bertingkat. Harapannya masyarakat lebih siap untuk selamat ketika bencana gempa bumi terjadi.
Bagi Anda yang belum paham mengenai cara-cara mempersiapkan diri dari bencana gempa bumi, silakan luangkan waktu untuk membaca beberapa modul kebencanaan dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Modul ini berisikan detail panduan mengenai hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan, baik itu sebelum hingga setelah gempa bumi. Panduan wajib dipahami oleh seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan nilai ketahanan/kapasitas mengingat Indonesia adalah negara yang rawan gempa bumi (seperti sudah dijelaskan di bagian awal tulisan ini). Jadi, selain untuk konsumsi pribadi, silakan juga jadikan modul sebagai bahan untuk mensosialisasikannya kepada seluruh anggota keluarga, tetangga, warga masyarakat, murid/mahasiswa, dll). Semakin banyak masyarakat yang paham tentunya akan mampu mengurangi risiko dari bencana gempa bumi.
Terdapat setidaknya tiga buku dari BNPB yang dapat dijadikan panduan terhadap bencana gempa bumi 6):
Terdapat panduan persiapan di dalam rumah (keluarga) dan di lingkungan masyarakat, saat terjadi gempa bumi (di dalam dan di luar rumah, di ruangan kelas/kantor, serta gedung bertingkat).
Terdapat pedoman sebelum terjadi gempa bumi, latihan evakuasi di dalam gedung/sekolah, serta latihan evakuasi di dalam rumah.
Terdapat panduan prabencana gempabumi, saat bencana terjadi (baik itu ketika berada di dalam bangunan, seperti rumah, sekolah, atau bangunan bertingkat, maupun di dalam kendaraan seperti mobil), serta pascabencana.
Klik untuk mengunduh full ebook: Buku Saku Kesiapsiagaan
#TangguhAward2018 #BudayaSadarBencana #SiapUntukSelamat
Leave a Reply