Mengenal Perbedaan Peta Topografi dan Peta Rupabumi Indonesia (RBI)

Mengenal perbedaan dasar Peta RBI dan TopografiPeta secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya, yakni peta dasar dan peta tematik. Peta dasar ialah peta yang berfungsi sebagai dasar dalam pembuatan peta-peta tematik maupun peta lainnya. Beberapa jenis peta dasar diantarnya adalah peta topografi dan peta Rupabumi Indonesia (RBI). Meskipun sama-sama menampilkan kenampakan permukaan bumi baik yang alami maupun buatan serta dapat dijadikan sebagai peta dasar, kedua jenis peta tersebut memiliki beberapa perbedaan, baik dikaji dari segi isi atau keterangan tepinya.

Peta Topografi pada dasarnya masih dibedakan lagi menjadi peta topografi LCO dan AMS. Peta Topografi LCO merupakan peta topografi buatan pemerintah kolonial Belanda, menggunakan sistem koordinat sesuai dengan namanya, yakni LCO (Lambert Conical Ortomorphic). Proyeksi ini menggunakan bidang proyeksi berbentuk kerucut dan bersifat mempertahankan bentuk (conform). Peta topografi LCO ini kurang cocok digunakan di Indonesia mengingat proyeksi kerucut lebih tepat untuk digunakan pada daerah lintang tengah (wilayah antara kutub dan ekuator). Pemetaan wilayah Indonesai akan lebih akurat hasilnya jika menggunakan proyeksi silinder (karena posisi Indonesia di ekuator).

Peta topografi AMS merupakan peta topografi yang dibuat oleh Uni Soviet menggunakan system koordinat Transverse Mercator (TM), dengan bidang proyeksi silinder. Tampilan peta ini terbilang kurang menarik karena hanya disajikan dalam warna grayscale. Tidak banyak perbedaan antara peta topografi LCO dan AMS selain dari pembuat peta, sisi proyeksi, dan tampilan petanya. Hal ini karena secara umum peta topografi penomorannya berupa angka dan huruf, toponimi menggunakan ejaan lama, garis kontur digambarkan dengan rapat dan jelas, pembagian lahan berdasarkan penutup lahan, serta menggunakan skala angka dan batang.

Peta Rupabumi merupakan peta yang sangat lazim digunakan di negara Indonesia (salah satunya karena dibuat oleh lembaga dalam negeri, yakni BIG) dan menggunakan sistem proyeksi (Universal Transverse Mercator) UTM. Sebagaimana pada peta topografi AMS, bidang proyeksi yang digunakan juga berupa silinder. Peta ini cenderung lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan dengan peta topografi. Beberapa faktornya ialah karena peta rupabumi sudah menggunakan ejaan yang disempurnakan serta sifatnya lebih detail daripada peta topografi.

Diantara banyaknya jenis system proyeksi yang digunakan dalam pemetaan, sistem proyeksi yang secara resmi dipakai di Indonesia adalah Universal Tranverse Mercator (UTM). Selain karena sudah berlaku universal, sistem proyeksi ini juga telah dibakukan oleh BAKOSURTANAL (BIG) sebagai sistem Proyeksi Pemetaan Nasional. Pada system proyeksi ini bola bumi dibagi dalam zona-zona yang tiap zona memiliki ukuran 6° dan 8° serta dibatasi oleh meridian. Wilayah Indonesia terbagi dalam 9 zona/daerah, yakni zona 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 53, dan 54. Dengan kata lain berada pada bujur 94o E sampai dengan 141o E.

Mengenal Perbedaan Peta Topografi dan Peta Rupabumi Indonesia (RBI)
4.9 (98.46%) 13 votes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *